Freelancer is Not A Rockstar

Bila dilihat sepintas, mungkin ada anggapan bahwa begitu enaknya bekerja menjadi seorang freelancer. Tidak terikat waktu, tidak harus bermacet2an pergi/pulang kantor, bisa bekerja dari mana saja (bahkan sambil ngopi2 di cafe) dan mendapat client dari luar negeri dengan bayaran dollar. Seolah-olah hidup freelancer layaknya seperti seorang rockstar. :) Apalagi ada sebuah website freelance terkenal menerbitkan buku berjudul ‘Rockstar Freelancer’, rasanya makin banyak freshgraduate yang tergiur untuk menjadi freelancer, khususnya di bidang design grafis, programming dan teknologi informasi.
Namun apakah benar demikian? Sebenarnya, freelancer is not a rockstar. Paling nggak, tidak sepenuhnya benar. Bila keuntungan2 yang Saya sebutkan di atas dipandang mirip dengan gaya hidup seorang rockstar, ya mungkin bisa dikatakan being a rockstar is part of freelance lifestyle! :) Tapi harus dicermati bahwa itu semua tidak dicapai dalam waktu singkat dan sekejap. Menjadi freelancer merupakan pilihan yang harus dipertimbangkan matang-matang. Ada sederet cerita di belakangnya (yang hampir bisa dipastikan jauh dari enak) dan hal-hal yang harus dipersiapkan agar bisa menjadi freelancer yang baik.
Didasarkan pada pemikiran tersebut dan pengalaman menjalani dunia freelancing, Saya dan rekan Saya - Ardy Muswardi, mencoba berbagi hal-hal mengenai freelancing yang kami sampaikan pada acara “Freelancing, Done Right!” di Cafe Au Lait, Jakarta. Kebetulan kami dari Digitalgrafis diundang untuk sharing di acara yang diselenggarakan oleh Ruang Freelance dan Oxford Business Course tersebut pada 21 Maret 2009 kemarin.







