| Subcribe via RSS

Freelance vs. Full-time (Part-1)

March 2nd, 2007 Posted in Freelancing, Thoughts

Bekerja sendiri sebagai freelancer atau bekerja full-time sebagai employee? Pertanyaan tersebut mungkin adalah pertanyaan yang ada (atau paling tidak pernah terpikirkan) di dalam benak setiap desainer. Menariknya, bila mengamati topik2 pembahasan di beberapa forum dan komunitas, ada semacam fenomena bahwa pekerjaan sebagai freelance dirasa lebih menarik dibandingkan sebagai full-time employee. Is that so? Let’s see…

So, You are Ready to Fly Solo?

Bisa kerja dari rumah, nggak perlu bangun pagi dan bermacet2 di jalan, ngopi-ngopi di café sambil bikin lay-out, bisa jalan keluar kapan aja, nggak disuruh2 sama boss… Dan what’s best, setelah kerjaan selesai dapat bayaran. Relatif lebih gede lagi dari gaji bulanan di kantoran. Hummm… menarik sekali bukan?

Bila melihat sisi positifnya saja, memang enak bekerja sebagai freelancer. Tapi tunggu dulu, apakah terpikirkan juga bagaimana bila nggak ada project? Ok, katakanlah Anda dapat satu proyek, tapi bagaimana selanjutnya? Akan adakah project ke-2, ke-3 dan seterusnya? Belum lagi harus multi-tasking. Ngedesain iya, jualan iya, bikin proposal dan penawaran harga, presentasi, ngejar-ngejar nagih bayaran juga. Bayangkan juga bila pada saat yang bersamaan, ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalkan atau client yang agak cerewet minta rubah ini-itu… Aargggh…

Ada sebuah pendapat menarik dari sebuah diskusi di forum:

“Menurut saya sih jadi freelancer itu kadang2 kesepian. Kalo dah deadend aga2 susah juga sih nyari ide (kecuali kalo orangnya dah bakat kreatif banget yah). Sementara kalo kerja dikantor apalagi kalo diperusahaan besar yang suasana kantornya tuh live banget mungkin inspirasi untuk disain bisa dateng dari meja sebelah tuh atau cuma dari ngeliat kelakuat temen2 kerja trus keinget suatu hal dan bisa jadi inspiras.i Kan ga susah2 banget tuh dapetnya apalagi kalo kantornya yang model cubicle gitu dan orang2nya tuh demen banget nempel gambar ato pajangan2 yang lucu keren n kreatif gitu. Kayanya atmosfernya kondusif banget tuh meski kita bisa sampe 24 jam dikantor”

Yap, itu betul. Terkadang pada satu saat seorang freelance designer akan “merindukan” sebuah suasana dimana ia bisa bersosialiasi dan berinteraksi dengan sesama designer lainnya. Hal itu akan sangat terasa terutama dalam pencarian ide kreatif atau bila ia butuh penilaian objektif terhadap pekerjaannya. Sisi ini yang mungkin jarang terpikirkan oleh seorang designer ketika memutuskan untuk ‘flying solo’. Ya bukan berarti sama sekali tidak bisa, kumpul2 dengan sesama teman designer di café atau ikut sebuah komunitas desainer bisa menjadi solusi. Namun tetap saja,harus dipahami bahwa atmosfer-nya akan berbeda.

Lebih jauh kemudian muncul beberapa pertanyaan: Bagaimana cara menentukan harga? Bagaimana sisi legalitas dan bargain positioning seorang freelance desainer terutama terhadap ide dan konsep yang diajukan kepada calon client? Menjawab pertanyaan2 tersebut, sebenarnya basically ada 3 hal utama yaitu: pertama-tama seorang freelance designer harus bisa menilai sejauh apa kemampuan dirinya baik dari sisi skill, kreatifitas dan manajerial. Kedua, mempersiapkan ‘amunisi’ aka portfolio yang cukup dan berkualitas untuk terjun ke dunia persaingan dan ketiga, membangun networking yang bagus. Bila itu telah terpenuhi, selanjutnya untuk hal-hal seperti: penentuan harga, legalitas atau bargain positioning, seorang freelance designer bisa memutuskan secara strategik dengan berbekal pada hal2 tersebut di atas.

The Pros and The Cons

So, berikut ini beberapa sisi positif dan negatif yang bisa dipertimbangkan oleh seorang designer untuk memutuskan apakah ia ingin nejadi seorang freelancer.

Sisi positif:

  • bayaran per project-nya relatif lebih gede, mungkin bisa 2-3x lipat dibandingkan salary sebagai employee
  • punya waktu lebih fleksibel karena tidak terikat pada jam kantoran.
  • nggak dibentak2 dan disuruh2 boss
  • more free to move, dengan fasilitas/perlatan yang memadai, tidak harus bekerja di dibelakang meja.
  • pakaian bebas
  • ngelatih management skill, teamwork dan intrapersonal skill in the real world
  • starting point untuk setup your own design company.

Sisi negatif:

  • Multi tasking, nggak bisa cuma hanya jadi desainer saja. Harus cari project juga. Bila bekerja terlalu keras nggak sempat jualan apalagi bila nggak punya skill “selling the design & promote yourself”
  • Investasi untuk peralatan dan referensi lumayan besar
  • (Umumnya) pake hardware jangkrik + software bajakan
  • Pendapatan yang tidak regular (bergantung ada tidaknya proyek).
  • Tidak ada fasilitas tambahan, misalnya: THR, bonus, medical/tranportation allowance
  • Pikiran selalu ke kerjaan almost 24-7 (Yap, even weekend! J)
  • Kredibilitas sering diragukana, terutama oleh pemilik project gede
  • Kurangnya working environment dimana designer bisa bersosialisasi dan mendapatkan ide2 kreatif

Now that you know, wait… don’t decide yet. ;) Bagian ke-2 artikel ini akan membahas dari sisi Full-time Job… :)

Continue to Part-2 …

9 Responses to “Freelance vs. Full-time (Part-1)”

  1. Kuswanto Says:

    Aku lebih suka menyebut entrepreneur daripada seorang freelancer. Karena, saya gak menunggu proyek datang saja, tapi juga memikirkan taktik pemasarannya seperti apa, planning keuangan, dan hal lain layaknya membuat sebuah perusahaan.

    Sisi lain juga, apabila proyek sudah dirasakan tidak bisa dihandle sendiri, saatnya untuk outsource ke temen-temen.

    Tambahan untuik bagian Pros: bisa membuka lapangan kerjaan :)


  2. H Says:

    Humm.. personally gue ngerasa istilah ‘entrepreneur’ agak “terlalu berat” ya buat pemula yang baru mau mutusin bekerja sendiri? :) Emang sih pada akhirnya emang arahannya ke sana. Anyway, thanks utk comment dan tambahan poin plusnya, ‘Kus.


  3. anggi Says:

    memang sebenarnya agak mengerikan kalo freelance di dunia OFFLINE (nyari klien lokal), soale kita belum begitu paham sama dunia ini… kadang agak kejam, boleh dapet pertama.. tapi kelanjutannye mentok.

    beda dengan ONLINE (ikut freelance online agent) di freelance online lumayan aman.. kenapa karena klien sangat lah banyak sekitar 100-200 perhari, jadinya kita tinggal pitching di setiap project yang di sodorkan.. alhamdulillah saat ini bisa jalan 6 bulan.. dan semua pengalaman masuk ke blogku http://blog.orangbebas.com

    jadi bisa dibedakan antara OFFLINE dan ONLINE :D hanya saran


  4. H Says:

    Yup betul Anggi, perbedaan utama kalo menurut gue adalah di project approach dan effort yang kita keluarkan. Online joblist mungkin relatif lebih simpel karena kontak, pricing dsb. bisa dikirimkan online. Sementara untuk direct client (bisa online dalam arti client di luar negeri atau offline/client lokal) umumnya perlu pendekatan yang sedikit lebih khusus. Tapi perbedaan nilai projectnya juga bisa cukup significant lho.. ;)


  5. Freelance Online Tech » Blog Archive » Menjadi Freelance Says:

    [...] Sebagai pemula, ada baiknya kamu membaca Freelance VS Full time Part 1 dan Freelance VS Full time Part 2 . Menjadi seorang freelance adalah sebuah pilihan yang pada akhirnya saya pun menjalani pekerjaan ini. Moto-motoku untuk hidup di freelance yaitu OPTIMIS, JUST TRY TO THE NEXT STEP, dan KEEPN TRY’n [...]


  6. syamsul hadi Says:

    Apa yang sudah Anda paparkan memang benar sekali. Sebagai seorang Jawa (banyak mengaliran paham Jawa), “Ajine Rogo Soko Busono” (Kita dihargai karena wujud dhahir kita), yang saya maksudkan adalah aktivitas keseharian kita. Apakah dengan menjadi freelancer, membuat kita bisa bangun pagi-pagi? berangkat kerja ke kantor tiap hari? (kecuali hari libur tentunya). Artinya status memang tetap tidak bisa diabaikan ya?… tetapi bagi saya waktu yang akan membuktikan. waktu yang menuntut konsistensi kita. kalau kita bisa konsis… beres..


  7. Menjadi Freelance |  Ruang Freelance Says:

    [...] pemula, ada baiknya kamu membaca Freelance VS Full time Part 1 dan Freelance VS Full time Part 2 . Menjadi seorang freelance adalah sebuah pilihan yang pada [...]


  8. posttraumatic Says:

    kulon nuwun…
    mau gabung buwat belajar …


  9. Typedminds » Blog Archive » Freelance vs. Full-time (Part-2) Says:

    [...] kita telah membahas plus-minus bekerja sebagai freelance desainer. Untuk mendapatkan informasi yang seimbang, ada [...]


Leave a Reply

  • RSS Del.icio.us

  • iTweet. Do you?

  • My Kids

    Lilypie Kids birthday Ticker
    Lilypie Kids birthday Ticker

  • Flickr